Tauhid Para Nabi Allah

TAUHID

Tauhid diambil dari kata wahhada yuwahhidu tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La illaha illallah yang berarti Tidak ada tuhan melainkan Allah. (Qur’an 2:163; 47:19).
Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama Tauhid, yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (yang memperjuangkan Tauhid). Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, Tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid, yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.

بُنِيَالْإِسْلاَمُعَلَىخَمْسٍ،شَهَادَةِأَنْلاَإِلَهَإِلاَّاللهُ،وَأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُولُهُ،وَإِقَامِالصَّلاَةِ،وَإِيتَاءِالزَّكَاةِ،وَحَجِّالْبَيْتِ،وَصَوْمِرَمَضَانَ “Islam dibangun di atas lima pondasi, (1) Persaksian, bahwa tidak ada yang berhak diibadahi, kecuali Allah; dan Muhammad adalah utusan Allah (2) Menegakkan shalat; (3) Membayar zakar; (4) Haji ke Baitullah; (5) Puasa Ramadhan.” (HR. Muslim). Kalau kita perhatikan, mengapa kalimat Shahadatain ini berada pada posisi yang teratas? Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya sebatas meyakini Allah dan Rasul saja, tetapi juga mencintainya dg cara mentaati Allah dan mengikuti tuntunan (ajaran) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
قُلْإِنكُنتُمْتُحِبُّونَاللهَفَاتَّبِعُونِييُحْبِبْكُمُاللهُوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَاللهُغَفُورُُرَّحِيمُُ “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kamu (wahai manusia) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu!’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Sehingga, syarat diterimanya pengakuan seseorang, bahwa dia mencintai Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; baik dalam hal aqidah, akhlak, ibadah, maupun mu‘amalah (berinteraksi dengan yang lain). “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah….” (QS. An Nisaa’: 80).

Umat kristen seringkali menuduh bahwa ungkapan syahadat Islam --kalimat Tauhid-- itu meniadakan TUHAN yang berhak disembah. Demikian asumsi belaka mereka, padahal ketidaktahuan mereka adalah bahwa kalimat SYAHADAT itu mempunyai 2 rukun yaitu: AN NAFYU (Peniadaan) & AL ITSBAT (Penetapan).

AN NAFYU bermakna meniadakan tuhan-tuhan, ilah-ilah, sembahan-sembahan atau berhala-berhala yang tidak memiliki kuasa apapun/ mendatangkan manfaat apapun. Nah kalimat LAA ILAHA merupakan rukun AN NAFYU tsb. Sedangkan rukun AL ITSBAT bermakna menetapkan ALLAH sebagai TUHAN yang berhak disembah, TUHAN yang HAQ; yang diyakini sebagai pencipta langit dan bumi. Kalimat ILLALLAH adalah penetapan dari rukun AL ITSBAT tersebut.

Jadi maklum ketika umkris menuduh umat Islam menghilangkan atau meniadakan TUHAN dalam kalimat syahadat, kenapa? Karena mereka tidak tau sama sekali tentang rukun kalimat syahadat. Dan penting untuk dibedakan antara kata BERSAKSI dgn MENYAKSIKAN. Kata syahadat itu berasal dari akar kata SYAHIDAH yang berarti PERSAKSIAN, PENGIKRARAN, PENGAKUAN/ KOMITMEN. Secara terminologis, syahadat diartikan sebagai pernyataan diri segenap jiwa dan raga atas persaksian bahwa “Laailaha illallah-Muhammad Rasulullah; Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Apakah kata kalimat syahadat itu harus menyaksikan ALLAH dulu baru kita percaya? TIDAK. Apakah kita harus menyaksikan Nabi Muhammad dulu baru kita percaya? TIDAK. Ini berarti kalimat SYAHADAT merupakan kalimat komitmen, kalimat pengikraran, kalimat persaksian. Ketika kita mengucapkan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH maka disitu ada komitmen bahwa kita akan meninggalkan KESYIRIKAN, disitu ada pengikraran bahwa hanya ALLAH Tuhan yang berhak disembah, disitu ada persaksian bahwa tidak ada Tuhan lain selain ALLAH. Begitupun ketika kita mengucapkan kalimat MUHAMMAD RASULULLAH maka konsekuensi logisnya adalah kita akan mengikuti segala ajaran-ajaran/ petunjuk dari Nabi Muhammad Saw.
Jadi, kalimat syahadat tidak mesti MENYAKSIKAN tapi lebih berorientasi pada pengikatan komitmen, pengikraran, dan persaksian bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH dan MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH.

Nah ajaran Tauhid ini bukan hanya ajaran Nabi Muhammad Saw saja melainkan merupakan ajaran setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah Swt (Qur’an 21:25). Berikut adalah beberapa dalilnya, pertama, Tauhid para Nabi dan Rasul yang terdapat dalam al-Qur’an. Tauhid Nabi Nuh a.s:  Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Qur’an 7:59)

Tauhid Nabi Huud a.s: Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (Qur’an 11:50)

Tauhid Nabi Shalih a.s: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Qur’an 11:61)

Tauhid Nabi Syu’aib a.s: Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (Qur’an 11:84)

Tauhid Nabi Musa a.s: Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qur’an 20:13-14)

Nabi Ibrahim a.s, Ishaq a.s dan Ismail a.s juga mengajarkan Tauhid: Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qur’an 2:133)

Tauhid Nabi Isa a.s: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qur’an 5:72)

Kedua, Tauhid Para Nabi dan Rasul dalam Alkitab. Tauhid Nabi Musa a.s: Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35). Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4). Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku (Ulangan 32:39)

Tauhid Nabi Daud a.s: Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. (II Samuel 7:22). Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kau buat. Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; (Mazmur 86:8-12)

Tauhid Nabi Sulaiman a.s: Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, lalu berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; (I Raja-raja 8:22-23)
Tauhid Nabi Yesaya a.s: “Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. (Yesaya 43:10-11). Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. (Yesaya 44:6). Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (Yesaya 45:5-6). Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, (Yesaya 46:9)

Tauhid Yesus (Nabi Isa a.s): Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29). Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30). Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3).

Komentar

Postingan Populer