Tanggung Jawab Manusia

TANGGUNG JAWAB → MANUSIA

Berbicara tentang tanggung jawab, maka yg perlu diingat dan garis bawahi bahwa kita sbg manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab. Karena manusia itu adalah makhluk yang mukallaf (yang diberi beban tugas) sehingga dg adanya beban tugas ini, maka kita menjadi makhluk yang bertanggung jawab.  Tetapi tanggung jawab itu harus kita sadari bahwa tanggung jawab itu lahir karena kita memiliki kebebasan dan kita memiliki pengetahuan. Seperti disebutkan dalam Quran bahwa “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan (menawarkan) amanat (yakni taqlif/ tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikulkan amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. (manusia yang menerima tetapi tdk mau melaksanakannya) Sesungguhnya manusia itu amat zalim (aniaya) dan amat bodoh (Qs. al-Ahzab 72).

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita ditawari berarti taqlif diambil karena kita mau bersedia. Allah beri kita taqlif, ok. Tetapi Allah masih memberikan kita seperangkat potensi supaya kita bisa melakukan taqlif itu dg baik.
Potensi pertama yang diberikanNya adalah Hidayat. Allah beri kita hidayat naluri, panca indera, akal, tuntunan agama → Qs. al-Isra 15 Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

NB: Jadi orang yg tdk tahu, dituntut tanggung jawab/ tidak? Tidak!

Potensi kedua yang diberikanNya adalah Qs. al-Baqarah 286 Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

NB: Kalau tdk mampu, dituntut tanggung jawab/ tidak? Tidak!
(hanya saya berkata) kalau tdk tahu dan tdk mampu tetapi sebenarnya mampu kalau mau/ bisa tahu kalau mau, maka itu bisa dituntut. Contoh “aduhh.,, sebenarnya saya ini tdk bisa puasa, saya ada sakit maag” (alasan-sebenarnya dia mampu, hanya dia tdk mau). Atau “Oh., saya tidak tahu itu, saya tidak usah belajar deh”, (tidak bisa, anda bisa belajar dan anda bisa tahu). Dan yg tidak dituntut tanggung jawab itu adalah bagi orang yg tdk berakal /gila, tertidur, terpaksa. Jadi kaitannya dg tanggung jawab adalah Tau — Mampu dan mengetahui — memahami apa yang dibebankan.
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( رفع القلم عن ثلاثة : عن النائم حتى يستيقظ و عن المبتلى حتى يبرأ و عن الصبي حتى يكبر )) Dari Aisyah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Pena diangkat dari 3 orang: orang yang tidur sampai dia bangun, orang yang gila hingga sembuh dan anak kecil (belum baligh) hingga ia dewasa” (HR. Tirmidzi).
Nah, seandainya saudara hanya melaksanakan yang diwajibkan, tdk yang sunnah. Sudah selesai belum tanggung jawabnya? Sudah! Karena yg sunnah itu tdk diwajibkan/ tdk dituntut tanggung-jawabnya. Umpamanya kenapa tdk shalat sunnah? Ya, karena itu sunnah “dikerjakan berpahala, tdk dilaksanakan tdk apa-apa”.

Ini adalah tanggung jawab yang dibebankan Allah kepada kita. Karena Allah mempunyai maksud dan misi, manusia diciptakan di dunia bukan utk main2. Qs. al-Mukminun 115 Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Atas dasar misi tsb, Allah menilai sejauh mana manusia mengimplementasikan tugas tanggung jawab tsb.

Manusia diciptakan ada beberapa tujuan:
Manusia sbg hamba Allah memiliki tugas utk mengabdi/ beribadah kepadaNya.
Qs. adz-Dzariyat 56 Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Qs. al-Bayyinah 5 Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
[1595]. Lihat no. [201] → Qs. ali-Imran 67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus[201] lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

Sebagai khalifah artinya memimpin muka bumi. Kehadiran manusia dimuka bumi harus memberi manfaat bagi lingkungan.
Qs. al-Ahzab 46 dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Allah menciptakan langit dan bumi bukan tanpa maksud (iradah). Di ciptakan bumi dan segala isinya adalah utk manusia. Lalu kemudian manusia mampu mengelola dan mendapatkan manfaat, maka disitulah tantangan bagi manusia. Artinya ketika seseorang mampu menyelesaikan tantangan dan merubah sesuatu menjadi lebih baik serta melakukan yang terbaik utk kebahagiaan umat manusia, maka dialah yang layak mendapatkan penilaian terbaik dari Allah. Qs. al-Kahfi 7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Memakmurkan bumi Allah
Qs. Hud 61 …Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
[726]. Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

Seseorang yang nikah atau seseorang yang jadi Presiden, ada tanggung jawabnya tidak? ada tanggung jawab & harus ada tanggung jawab. Karena dia merasa dirinya mampu. Jika dia terima sbg Presiden, lantas tdk mampu “sontoloyo”, apa yg harus dilakukan? Dikembalikan tanggung jawab tsb “katakan saya tdk mampu”. Jadi tanggung jawab itu punya kaitan dg kehendak dan kemampuan kita menerimanya. Kalau tdk mampu ya mundur.

Kalau tugas beban itu, sebelum anda menerimanya, tanya dulu diri anda saya mampu atau tidak?. Sebab kalau tidak, lalu anda terima, anda akan bertanggung jawab.

NB: Tanggung jawab ini kalau kita bahas dalam kitab suci (al-Quran) ada dua macam: ada tanggung jawab personal dan ada tanggung jawab kolektif.
Tanggung jawab personal
Qs. al-Isra 13 Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan (ikatkan) amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya (diterimanya) terbuka.

Apa yg dimaksud dg kalung itu adalah khiasan yg berarti amal. Setiap orang datang berkalung dilehernya, dia akan mempertanggungjawabkannya (kalau dia baik, maka baiklah hasilnya, begitupun sebaliknya). Nah, ini artinya setiap orang punya tanggung jawab pribadi. Tanggung jawabnya seperti apa? Menyangkut beban tugas yang dia terima. Dan beban tugas yang dia terima itu bisa dari Allah, bisa juga dtg dari dirinya sendiri yang menugaskan.

Ada orang yg berkata:
Udah deh kerjakan saja, biar saya yg tanggung
Udah,, biar saya yang tanggung dosanya
Dll.

Bisa tdk itu? Tidak! Qs. isra 15 Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
[Tidak ada satu jiwa yang berdosa bisa memikul dosa orang lain].

Tanggung jawab kolektif.
Yaitu tanggung jawab yang rame-rame kita tanggung. Misalnya kalau dalam hukumnya fardhu kifayah; ada seorang yang meninggal dunia, wajib dimandikan-dikafankan-dikuburkan atau tdk?. Tanggung jawab siapa ini? Yaitu masyarakat.

Kita nanti dihari kemudian akan diberi masing2 kitab. Qs. al-Haqqah 19 Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya[1508] dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)." [1508]. Maksudnya: catatan amalan perbuatannya.
Ayat ini adalah tanggung jawab perorangan. Dan tanggung jawab masyarakat pun juga ada kitabnya, Qs. al-Jatsiyah 28 Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. 

Contoh, coba kita lihat ada tidak?
seseorang yg sebenarnya tdk mampu menduduki suatu jabatan, tapi dia duduk dijabatan itu.
Dan ada seseorang yang mampu memduduki suatu jabatan, tapi dia tidak diberi dijabatan itu.
Ada!. kira-kira yang mampu itu, dia merasa haknya terambil/ tidak? Nah, semua ini akan dikembalikan oleh Allah kepada jalannya. Kita lihat, “kamu itu, kenapa kamu itu tdk duduk dijabatan itu”? → “dulu kan ada pemilihan, dan saya tdk ada yang pilih”. Nah, yang tanggung jawab siapa ini? (iya. Masyarakat!. Dia mampu, tapi anda tidak pilih) itulah contoh yang kemudian di hari akhir masyarakat dituntut.

Contoh lagi, ada tindakan kriminal terjadi, namun tdk ada yang melakukan control social, dituntut tidak? Dituntut!

Jadi, ada yang dinamai dg hukum2 kemasyarakatan. Setiap orang ada ajalnya tidak? ada!. Dan masyarakat pun juga ada ajalnya. Qs. yunus 49 likulli ummatin ajal, Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat (masyarakat) mempunyai ajal[696]. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). 
[696]. Yang dimaksud dengan ajal ialah, masa keruntuhannya.
Masyarakat kita itu dulu ada yg disebut dg masa ORLA (sudah datang ajalnya), lalu ada ORBA (juga sudah selesai ajalnya). Nah, Inilah namanya tanggung jawab kolektif.

Dalam konteks tanggung jawab pribadi atau juga kolektif itu, bahwa siksaan/ ganjaran Allah bisa diberikanNya dalam kehidupan di dunia ini, dan bisa juga dalam kehidupan di akhirat. Nah, bisa jadi adanya bencana yang terjadi itu merupakan bentuk akibat atas pelanggaran tanggung jawab terhadap taqlif (personal-kolektif). Misalnya shalat. Pelanggaran terhadap shalat pada prinsipnya akan dipertanggung jawabkan diakhirat (belum ada yang tuntut sekarang kalau anda tdk shalat sekarang). Tetapi sanksi/ hukumannya bisa terasa di dunia dan bisa juga diakhirat. Nah, tanggung jawab kolektif pun bisa juga begitu. Tanggung jawab kolektif ini, sanksi/ hukumannya bisa di dunia dan bisa juga diakhirat. Hanya pada umumnya tanggung jawab pribadi dlm konteks ajaran agama itu sanksi/ganjarannya di akhirat. Tetapi pada umumnya sanksi/ ganjaran yang menyangkut hal2 dg masyarakat itu di dunia.

Karena itu, jgn beranggapan si A tdk shalat, tapi kok hdpnya enak2 aja (kan ada yang begitu). Memang pd dasarnya sanksi/ hukumannya bukan ia dapatkan di dunia. Akan tetapi tanggung jawab kolektif itu pada dasarnya di dunia ini. Kita bertanggung jwb memilih pemimpin kita misalnya, kalau salah pilih ada tdk sanksinya? Pada umumnya di dunia ini akan terasa didapatkan.

Jadi, kesimpulannya manusia adalah makhluk mukallaf, makhluk yg bertanggung jawab. Pertama tanggung jawab atas tugas yg dibebankan oleh Allah, dan kedua tugas yg dibebankan oleh dirinya sendiri. Sehingga kalau ada manusia yg tdk bertanggung jawab berarti dia bukan manusia. Contoh, ada suami yg tdk bertanggung jawab menafkahkan/ tdk memberi belanjaan terhadap isterinya; dia bukan manusia. Atau ada pemimpin yg tdk bertanggung jawab misalnya; maka dia bukan pemimpin.

Ada pertanyaan: apakah orangtua bertanggung jawab bila anak yg sdh batas usia tdk mau kawin? Jawabnya, kita lihat dulu, apakah kawin itu wajib atau gimana? Bahkan banyak orang yg tdk/ belum kawin. Karena kawin itu tdk wajib. Dia baru wajib apabila seseorang itu tdk kawin, terjerumus dalam dosa. Nah utk menghindari dosa yg dilarang oleh Tuhan, bagaimana cara menghindarinya? Banyak cara, salah satunya berpuasa utk menahan gejolak nafsu asmara. Tetapi kalau tdk bisa dihindari kecuali dg kawin, tetapi dia tdk mau kawin, maka dia berdosa. Namun kalau dia bisa menghindari dosa tanpa kawin, apa salahnya. Kawin itu bukan wajib. Bahkan boleh jadi ada yg berpendapat kawin itu sunnah, mubah, haram dsb. Kita ambil contoh lain, dia tdk mampu kawin, karena satu dan lain sebab. Boleh jadi fisik, boleh jadi dia tdk punya biaya dll, maka dia berdosa kalau kawin. Kenapa dia paksa kawin, sedang dia tdk mampu utk itu.

Soal lainnya: Bila kita memilih pemimpin dan ternyata pemimpin yang kita pilih itu tdk bertanggung jawab, artinya kita salah dalam memilihnya, apakah kita juga ikut berdosa? Artinya pemimpin yg tdk bertanggung jawab, yg kita pilih itu, maka dampaknya tentu kita juga akan merasakannya. Dia yg memimpin tdk bertanggung jawab, maka dia berdosa. Dan kita yg memilih, kalau kita sejak semula telah menduga bahwa dia tdk mampu, banyak bohongnya, hanya pencitraan saja, tapi kita pilih juga, maka kita juga berdosa. Tapi kalau kita memilihnya dg keyakinan atau dugaan keras bahwa dia mampu, namun ternyata dia tdk mampu, maka kita tdk berdosa. Tetapi dampak buruknya bisa kena kita. Makanya pasang mata, telinga, lihat track-recordnya, latar-belakangnya, kinerjanya, siapa yg mengusungnya dll, sehingga kita jgn salah pilih. Karena imbas buruknya tentu akan kembali kepada masyarakat yg memilihnya.

Soal lain: Bagaimana cara yg kita hadapi ketika kesalahan yg terjadi dimasyarakat, contoh dijalan raya yg semestinya itu utk jalan tapi digunakan utk berjualan, sementara kita merasa ada tanggung jawab utk mencegahnya? Jawab: jika ada kesalahan dalam masyarakat, maka tanggung jwb kita adalah mencegah kemungkaran dan meluruskan kesalahannya. Tetapi harus di ingat, bahwa ada prosedurnya, ada yang berwewenang utk itu. Karena itu, kalau ada kemungkaran, ada orang yg tdk lurus misalnya ada yg jualan dijalan, maka ada prosedurnya, kita beritahu yg berwewenang. Bila sdh diberitahu, tapi masih belum juga selesai. Maka paling tidak hati kita tdk setuju melihat itu. Dan tanggung jawab kita sdh lepas. Kata Nabi ada tiga tingkatan, bila ada kemungkaran maka cegahlah dg tangan, dg lisan dan dg hati (itulah selemah2nya iman). Karena ini tanggung jawab kolektif maka dampaknya bisa kita rasakan, walaupun tanggung jwbnya sdh lepas dari kita. Itu sebabnya Allah mengatakan Qs. al-Anfal 25. “Dan peliharalah dirimu (hati-hatilah) dari pada siksaan (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim (aniaya) saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.
Apa dampaknya, salah satunya ya kemacetan. (orang yg bersalah dan yg tdk bersalah kena semuanya). Begitupula halnya dg pemimpin yang sontoloyo misalnya, maka implikasinya akan berimbas kpd masyarakat. Lihat aja realitanya, kalau gak percaya.

Komentar

Postingan Populer