Sosok Pemimpin Zholim

JAUHI PEMIMPIN JAHAT

Siapa sosok yang paling dicintai Allah pada hari akhir nanti? “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi). Ia dicintai karena kinerja ‘adil’ kepemimpinannya, tapi sebaliknya Allah pun akan menelantarkannya pada hari kiamat dan tidak mengampuni dosa-dosanya. Sebuah riwayat dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ثَلاَثَةٌلاَيُكَلِّمُهُمُاللَّهُيَوْمَالْقِيَامَةِوَلاَيُزَكِّيهِمْوَلاَيَنْظُرُإِلَيْهِمْوَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌشَيْخٌزَانٍوَمَلِكٌكَذَّابٌوَعَائِلٌمُسْتَكْبِرٌ “Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia: Allah) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim). Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: أَيُّمَارَاعٍغَشَّرَعِيَّتَهُفَهُوَفِيالنَّارِ “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنِاسْتَرْعَاهُاللهُرَعِيَّةًثُمَّلَمْيُحِطْهَابِنُصْحٍإِلَّاحَرَّمَاللهُعَلَيْهِالجَنَّةَ. متفقعليه. وفيلفظ : يَمُوتُحِينَيَمُوتُوَهُوَغَاسِلِرَعِيَّتِهِإِلَّاحَرَّمَاللهُعَلَيْهِالْجَنَّةَ.“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tentunya masih banyak riwayat lain yang menyebutkan tentang ancaman Allah Ta’ala terhadap para pemimpin yang menzalimi rakyatnya. Bentuk ancamannya pun tidak ada yang ringan, hampir seluruhnya mengingatkan akan besarnya dosa seorang pemimpin ketika dia berbuat zalim kepada rakyatnya. Apalagi ketika ia berani berbohong dengan pencitraannya dihadapan rakyat demi mempertahankan jabatannya untuk sebuah kepentingan.
Fenomena demikian tak heran, karena jauh sebelumnya Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya akan adanya para pemimpin yang berbuat zalim dan berbohong dihadapan rakyatnya. Rakus demi mengejar kepentingan dunianya. Kita sebagai umatnya, tidak hanya diperintahkan untuk bersabar menghadapi keadaan tersebut, namun lebih daripada itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan untuk senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan selalu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: الدِّينُالنَّصِيحَةُقُلْنَالِمَنْقَالَلِلَّهِوَلِكِتَابِهِوَلِرَسُولِهِوَلِأَئِمَّةِالْمُسْلِمِينَوَعَامَّتِهِمْ “Agama itu adalah nasihat.” Sahabat bertanya, “Untuk siapa ya Rasul?” Beliau bersabda, “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, Imam kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan.” (HR. Muslim).
Nasihat secara diam-diam merupakan pilihan awal dalam melawan kemungkaran. Namun ia bukanlah satu-satunya cara untuk meluruskan kesalahan penguasa. Ketika nasihat dengan cara tersebut sudah tidak diindahkan, maka Rasulullah SAW pun memberikan motivasi lain kepada umatnya untuk merubah kemungkaran penguasa. Motivasi tersebut ialah pahala jihad yang dijanjikan kepada umatnya yang menyampaikan kebenaran dihadapan penguasa zalim. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: أَفْضَلُالْجِهَادِكَلِمَةُعَدْلٍعِنْدَسُلْطَانٍجَائِرٍأَوْأَمِيرٍجَائِرٍ “Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Lalu ketika usaha tersebut tidak dihiraukan lagi dan pemimpin tsb tetap pada prinsipnya yang berlaku “topeng” pada rakyat, maka Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk menjauhi pemimpin tersebut serta jangan sampai mendekatinya, apalagi membenarkan tindakan zalim yang mereka lakukan. “tampakkan wajahmu dengan tidak suka dan berkata hatimu untuk benci melihat sikapnya”. Sebab, ketika seseorang tetap mendekati pemimpin zalim tersebut dan membenarkan apa yang dilakukannya maka ia akan terancam keluar dari lingkaran golongan umat Nabi SAW dan ia tidak akan mendatangi telaganya nanti di hari kiamat. Dari Ka’ab bin Ujroh radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّهُسَيَكُونُعَلَيْكُمْبَعْدِيأُمَرَاءٌفَمَنْدَخَلَعَلَيْهِمْفَصَدَّقَهُمْبِكَذِبِهمْوَأَعَانَهُمْعَلَىظُلْمِهمْ،فَلَيْسُمِنِّيوَلَسْتُمِنْهُ،وَلَيْسَبِوَارِدٍعَلَيَّحَوْضِي،وَمَنْلَمْيُصَدِّقْهُمْبِكَذِبِهمْوَلَمْيُعِنْهُمْعَلَىظُلْمِهِمْ،فَهُوَمِنِّيوَأَنَامِنْهُوَسَيَرِدُعَلَيَّالْحَوْضَ “Akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezhaliman mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kezhaliman mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Semoga bermanfaat.__

Komentar

Postingan Populer