Semua Perbuatanmu Akan Dihisab

 Apa Yang Akan Kukatakan Kepada Allah?
“What Will I Say To Allah?”



Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Umar ra sedang berjalan bersama2 dg Abu Ubaidah ra, dalam perjalanan tsb mereka bertemu dg seorang wanita. Dam wanita itu berkata: “Ya umar, dulu kau dipanggil dg Umair (Umar muda), dan dulu kau sering bergulat dg anak lelaki di pasar Ukad. Sekarang kau dipanggil Umar, dan tidak lama setelahnya kau menjadi Amirul Mukminin, jadi takutlah kepada Allah ya Umar, dan ketahuilah bahwa Allah akan menanyaimu perihal rakyatmu, bagaimana kau mengurus mereka.” Kemudian Umar ra pun mulai menangis begitu dalam, sehingga Abu Ubaidah menyalahkan wanita itu. Umar kemudian berkata: “Biarkanlah dia ya Abu Ubaidah karena dialah seseorang yg suaranya didengar Allah di atas langit ketujuh”.

Dalam riwayat lain diceritakan pula bahwa Umar ra pada suatu malam mendengar seorang wanita tua berkata kepada cucu perempuannya “Campurkan susunya dg air”. Lalu cucunya berkata “Wahai nenekku, tidakkah kau mendengar bahwa Amirul Mukminin, Umar ra melarang mencampur susu dg air?”. Kemudian wanita tua itu berkata “Dan dimanakah umar itu sekarang, apakah dia melihat perbuatan kita?.” Lalu sang cucu perempuannya yg beriman berkata: “Jika umar tidak bisa melihat kita, maka sesungguhnya Tuhannya umar dapat melihat kita!”.

What Will I Say To Allah?
Narasi pengantar dari riwayat kisah Umar ra di atas sekilas menjadi bahan renungan bagi kita; “apa yang akan kukatakan ketika tubuh ini disaat kelak berbicara dihadapan Allah”? “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki (tiap-tiap mereka) menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (Qs. An-Nur: 24). “Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)” (Qs. An-Nur: 25).

Jika kita ingin mengetahui tingkat keimanan kita, maka awasi diri kita ketika sedang sendirian. Sesungguhnya iman itu tidaklah terwujud di dalam melaksanakan shalat 2 rakaat atau berpuasa pada suatu hari, melainkan iman terwujud dalam perjuangan melawan diri sendiri dan hawa nafsu. Demi Allah! Nabi Yusuf as tidak diberikan derajat yang tinggi  kecuali ketika dia lulus melalui ujian itu.“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” Qs. An-Naziyat: 40-41)

Dari tujuh golongan yg akan diberikan naungan oleh Allah di hari dimana tiada tempat bernaung kecuali naunganNya di antaranya adalah seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian; bersujud ditengah heningnya malam lalu memohon ampunan atas segala maksiat dan dosa hingga meneteskan air mata, dan seseorang yang takut kepada Allah dan menawan nafsu birahinya tatkala digoda oleh wanita cantik nan aduhai untuk melakukan perzinaan. Selengkapnya ada di sini: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan lagi selain naunganNya adalah; imam yang adil, pemuda yang selalu beribadah pada Allah, orang yang hatinya selalu dekat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah berjumpa dan berpisah karena-Nya, dan orang yang digoda oleh wanita yang memiliki pangkat dan kecantikan lalu ia berkata, 'Aku takut kepada Allah, " orang yang bersedekah lalu menutupinya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya, dan orang yang senantiasa berdzikir pada Allah sampai bercucuran air mata. (HR. Muslim 540).

Utk kamu yg masih bermaksiat tatkala sendirian, berselancar di dunia maya dg melihat aurat2 yg diharamkan, maka ketahuilah perbuatanmu tsb adalah melanggar perintah Allah Swt. Qs. An-Nur 30. “Katakanlah (wahai Muhammad saw) kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." 31. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya”. Dalam riwayat Imam Muslim, dari Abu Said al-Kudri ra, Rasul saw ditanya apakah hak orang2 yg duduk2 dijalanan, maka Nabi saw menjawab “haknya orang yg duduk2 di jalanan boleh, silahkan, kalau seandainya memang harus duduk, akan tetapi harus menundukkan pandangan”.

Tatkala menajamkan pandangan, meluaskan pandangan kepada hal2 yg diharamkan (foto porno, video porno, atau hal2 lainnya), yg sekarang begitu mudah diakses, selain dosa bagi anda, setelah melihatnya pikiran anda pasti tidak fokus, kemudian cara berpikir andapun tidak matang, kenapa? Karena Allah telah memadamkan cahaya iman dihatinya yg tidak menjaga pandangannya. Oleh karena itu takutlah kamu kepada Allah. “Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (Qs. An-Naziat: 34-41).


Mari muhasabah diri.___

Komentar

Postingan Populer