Religi & Kitab Suci Pra Nabi Muhammad Saw
Apa agama dan kitab suci Muhammad sebelum Muhammad jadi nabi di usia 40 tahun?
Sebelum menjawab apa agama dan kitab suci Muhammad sebelum beliau menjadi nabi, mari kita tinjau dulu konsepsi ketuhanan masyarakat jahiliah Makkah. Suku Quraisy sebagai sebuah suku mayoritas yang mendiami Makkah dan sekitarnya adalah keturunan Ismail (diakui oleh Bibel dan Sejarawan otoritatif seperti Philip K. Hitti). Baik dalam alQur'an maupun Bibel, Ismael menyembah Tuhannya Ibrahim. Dengan demikian secara tradisi, suku Quraisy menyembah Tuhannya Ibrahim. Dan otomatis Muhammad sebelum menjadi Nabi pun menyembah Tuhannya Ibrahim karena beliau adalah salah seorang dari suku Quraisy. Tapi dalam perjalanannya, mayoritas masyarakat suku Quraisy ini berlaku syirik sejak Amr bin Luhay (Kristen Syam) membawa patung-patung berhala dari Syam (kita semua tahu bahwa Kristen Ortodoks Suriah/ Syam membuat patung dan lukisan orang-orang yang mereka anggap suci dalam keyakinan mereka) ke Makkah dan ditempatkan di sekeliling Kaabah (dalam beberapa riwayat, lukisan Maria dan patung Yesus juga terdapat di sekeliling Kaabah pra Islam) pada abad 4 M. Seiring waktu, tidak hanya patung-patung santo ini yang berada di Kaabah, tapi masyarakat lokal kemudian menduplikasi apa yang diperbuat oleh Amr bin Luhay, yakni membuat patung-patung yang sesuai dengan karakter kesukuan mereka masing-masing di antaranya Hubal, Latta, Manna dan Uzza.
Nama Hubaal atau Ba'al dikenal pertama kali sebagai sesembahan Bangsa Moab yang menempati wilayah sebelah Utara Laut Mati yang berbatasan dengan Kerajaan Israel Utara (sekarang Yordania). Menurut Kitab Kejadian pasal 19:30-38, Bangsa Moab adalah keturunan Lot yang incest dengan putri sulungnya sendiri dan melahirkan anak laki-laki bernama Moab. Dari Moab inilah kemudian lahir beberapa generasi yang dikenal dengan sebutan Bangsa Moab. Hubaal dalam bahasa Aram (bahasa yang dipakai oleh bangsa Moab) artinya roh (Phillip K.Hitti. History of The Arabs). Dan secara istilah, Dewa Hubaal adalah dewa yang berbentuk roh (bandingkan dengan teologi Kristen) yang menjadi pantheon tertinggi Bangsa Moab sejak abad 15 SM seperti Yahweh menjadi pantheon tertinggi Bangsa Kanaan. Lantas dari mana orang-orang Quraisy Makkah mengenal Hubaal?
Adalah Amr bin Luhay (tahun 140 M) seorang pemimpin Bani Khuzaah yang pertama kali membawa Hubaal dari Ma'arib (Moab) untuk dibawa ke Makkah dan diletakan di Kaabah dan dijadikan sesembahan baru orang-orang Quraisy. Kenapa orang-orang Quraisy mau menyembah Hubaal? Ada 2 faktor: pertama, tradisi penyembahan terhadap Dewa Hubaal sudah sangat lama, yakni dimulai oleh Bangsa Moab hingga masa kekaisaran Romawi kuno Hadrian (yang memadamkan pemberontakan Israel yang dipimpin oleh Bar Kokhbah pada tahun 135 M). Dan Kaisar Hadrian inilah yang berinisiatif mendirikan Kuil Dewa Jupiter di atas reruntuhan Bait Suci Solomo yang di dalamnya juga terdapat Dewa Hubaal sebagai bentuk "toleransi" kepada masyarakat yang menyembah Dewa Hubaal. Tentu saja sebagai dewa yang "senior" dibanding Latta, Mannat dan Uzza (dewa lokal masyarakat Makkah), orang-orang Makkah merasa bangga menyembah dewa Bangsa Moab ini. Faktor yang kedua, dari segi artistik patung Dewa Hubaal jauh lebih indah dibandingkan dengan dewa-dewa lokal masyarakat Makkah. Jika Latta, Mannat dan Uzza hanya dipahat dari batu gunung biasa, maka patung Dewa Hubaal terbuat dari Batu Akik berwarna merah sehingga menimbulkan daya magnet tersendiri bagi masyarakat Makkah. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut, oleh masyarakat Makkah, Hubaal dijadikan pantheon tertinggi sebagai Dewa Kesuburan di atas Latta, Mannat dan Uzza. Gerhard Nehls seorang misionaris dalam bukunya "The African Chritian and Islam" mengatakan: "Where was Baal worshipped? In Moab! It was the "god of fertility". 'Amr bin Luhay brought Hubal from Moab to Arabia." Dengan demikian jelaslah bahwa Dewa Hubaal bukanlah produk asli Quraisy Makkah, tapi dewa impor yang berasal dari Moab perbatasan sebelah Utara Israel yang dibawa Amr bin Luhay ke Makkah. Dan semua patung (termasuk patung Dewa Hubaal) yang terdapat di dalam dan sekeliling Kaabah sudah dihancurkan oleh nabi Muhammad bersama para sahabat tanpa tersisa saat peristiwa Fatu Makkah.
Kalau begitu, dari mana masyarakat Makkah pra Islam mengenal ALLAH? Berbagai komentar muncul, tergantung ilmu dan wawasan komentator. Bagi yang berilmu dan berwawasan sempit, mereka mengatakan nama ALLAH baru ada setelah agama Islam lahir di Makkah. Argumentasi ini bisa dipatahkan dengan sebuah fakta yang telah umum diketahui bahwa, ALLAH telah menjadi nama sesembahan Kristen Arab sebelum Nabi Muhammad lahir. Yang setingkat di atas berwawasan sempit mengklaim bahwa sebelum Islam lahir di Makkah, ALLAH adalah nama Tuhan Kristen Arab. Dengan demikian Islam telah mengadopsi nama sesembahan Kristen Arab tersebut untuk menamai Tuhan-nya. Klaim inipun tidak begitu sulit untuk dipatahkan, karena dalam Taurat, tidak ada lafadz ALLAH. Sementara Kristen mengklaim, Tuhan dalam Taurat adalah juga Tuhan mereka. Kalau begitu dari mana Kristen Arab "mencomot" nama ALLAH ini? Sampai di sini Kristen pasti bingung dan terdiam kecuali mereka yang kuat urat malunya. Bagi yang kuat urat malunya akan menggunakan jurus "pokoknya": Pokoknya Allah muslim tidak sama dengan Allah Kristen, titik! Tanggapan: Memang tidak sama, karena Ilah Kristen adalah Ilah rekaan Yohannes yang konon telah menjadi manusia dan tinggal di Yerusalem dengan nama barunya, yakni Yesus. Sedangkan ALLAH muslim--sebagaimana Allah dalam Taurat--maha ghaib (tidak bisa dilihat).
Lalu, kenapa lafadz ALLAH tidak ada dalam Taurat? Lafadz ALLAH memang tidak ada, tapi dalam lafadz ALAHA dan lafadz ELOAH ada dalam Taurat berbahasa Aramaik dan Ibrani. Apa hubungannya? Begini., prinsip dasar teologi adalah Pencipta langit dan bumi sesungguhnya adalah pribadi yang tunggal, tidak mungkin lebih. Persoalannya, setiap suku bangsa memiliki dialek bahasa masing-masing sehingga bunyi yang timbul dari mulut mereka ketika menyebut nama Sang Pencipta tersebut relatif berbeda-beda meskipun maksudnya sama. Dalam konteks rumpun Bahasa Semitik (diafiliasikan ke keturunan Sem putra Nabi Nuh), nama Tuhan berakar dari huruf yang sama yakni Alif, Lam, Ha (Arab)/ Alaph, Lamad, Ha (Aramaik)/ Alef, Lamed, He (Ibrani). Ketika bangsa Arab menyebut nama Tuhan, dealek Arab-nya berbunyi ALLAH. Sedangkan bangsa Suryani dengan dealek Aram nya berbunyi ALAHA, dan bangsa Israel menyebut-Nya ELOAH (bentuk singular dari Elohim). Pertanyaan berikutnya, jika ALLAH, ALAHA dan ELOHA adalah pribadi yang sama, kenapa harus yang berlafadz ALLAH ditekankan ke umat manusia? Kenapa tidak ALAHA atau ELOAH saja? Jawabannya sederhana: karena bahasa Aramaik kuno sudah punah sejak abad 2 M, dan Ibrani (bukan Ibrani modern yang telah jauh melenceng dari akarnya) telah hilang sejak abad 5 SM saat bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babilonia. Artinya hanya tinggal bahasa Arab lah satu-satunya bahasa dari rumpun Semitik yang tersisa. Artinya kita tidak akan bisa menemukan lagi lafadz ALAHA maupun ELOAH dalam bahasa aslinya, kecuali ALLAH sebagaimana yang termaktub dalam al Qur'an.
Nah, kembali ke pertanyaan awal, apa agama Muhammad sebelum beliau menjadi nabi? Secara formal, tentu saja bukan agama Islam sebagaimana yang dimaksud Qs. Al-Maidah: 3 karena belum ada masa itu. Namun secara tradisi, keyakinan Muhammad adalah keyakinan yang dianut oleh Ibrahim dan Ismail, yakni "Hanifah Muslimin". Tentu akan ada sanggahan dari anda bahwa bukankah dalam Qs.2:132 nabi Ibrahim dan nabi Yakub berpesan kepada anak-anaknya agar jangan mati sebelum memeluk Islam? Sekali lagi jangan terjebak dengan terjemahan. Memang dalam terjemahan Depag RI ujung ayat tersebut adalah Islam ("... kecuali memeluk agama Islam"). Tapi jika membaca teks aslinya, kata yang tercantum adalah مُسْلِمُونَ (muslimun). Dengan demikian terjemahan yang sebenarnya adalah: "kecuali dalam keadaan muslim". Sebenarnya hal ini tidaklah menjadi masalah, sebab pengertian Islam dan Muslim tetaplah sama yakni berarti "penyerahan sepenuhnya kepada ALLAH". Artinya, menterjemahkan kata "muslimun" menjadi Islam di Qs.2:132 tersebut tidaklah salah. Hanya saja secara istilah, Islam dalam terjemahan di ayat tersebut bukan Islam sebagai sebuah nama agama sebagaimana yang tercantum dalam Qs. Al-Maidah: 3, melainkan Islam yang bermakna "menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLAH".
Selanjutnya apa kitab suci nabi Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi? Jawabannya adalah: tidak ada, sampai datangnya alQur'an. Kalau begitu, apa tuntunan Nabi Muhammad dalam beragama sebelum menjadi nabi? Jawabannya adalah ALLAH. Karena ALLAH menjanjikan bahwa keturunan Ibrahim dipelihara dan dilebihkan dari umat-umat lainnya (Qs. Ali-Imran: 33). Artinya Nabi Muhammad dituntun oleh ALLAH melalui Malaikat Jibril (Wallahu’alam).
Semoga bermanfaat.__
(Di sadur by Qodry Al Amir dan literatur: Phillip K.Hitti. History of The Arabs)
Sebelum menjawab apa agama dan kitab suci Muhammad sebelum beliau menjadi nabi, mari kita tinjau dulu konsepsi ketuhanan masyarakat jahiliah Makkah. Suku Quraisy sebagai sebuah suku mayoritas yang mendiami Makkah dan sekitarnya adalah keturunan Ismail (diakui oleh Bibel dan Sejarawan otoritatif seperti Philip K. Hitti). Baik dalam alQur'an maupun Bibel, Ismael menyembah Tuhannya Ibrahim. Dengan demikian secara tradisi, suku Quraisy menyembah Tuhannya Ibrahim. Dan otomatis Muhammad sebelum menjadi Nabi pun menyembah Tuhannya Ibrahim karena beliau adalah salah seorang dari suku Quraisy. Tapi dalam perjalanannya, mayoritas masyarakat suku Quraisy ini berlaku syirik sejak Amr bin Luhay (Kristen Syam) membawa patung-patung berhala dari Syam (kita semua tahu bahwa Kristen Ortodoks Suriah/ Syam membuat patung dan lukisan orang-orang yang mereka anggap suci dalam keyakinan mereka) ke Makkah dan ditempatkan di sekeliling Kaabah (dalam beberapa riwayat, lukisan Maria dan patung Yesus juga terdapat di sekeliling Kaabah pra Islam) pada abad 4 M. Seiring waktu, tidak hanya patung-patung santo ini yang berada di Kaabah, tapi masyarakat lokal kemudian menduplikasi apa yang diperbuat oleh Amr bin Luhay, yakni membuat patung-patung yang sesuai dengan karakter kesukuan mereka masing-masing di antaranya Hubal, Latta, Manna dan Uzza.
Nama Hubaal atau Ba'al dikenal pertama kali sebagai sesembahan Bangsa Moab yang menempati wilayah sebelah Utara Laut Mati yang berbatasan dengan Kerajaan Israel Utara (sekarang Yordania). Menurut Kitab Kejadian pasal 19:30-38, Bangsa Moab adalah keturunan Lot yang incest dengan putri sulungnya sendiri dan melahirkan anak laki-laki bernama Moab. Dari Moab inilah kemudian lahir beberapa generasi yang dikenal dengan sebutan Bangsa Moab. Hubaal dalam bahasa Aram (bahasa yang dipakai oleh bangsa Moab) artinya roh (Phillip K.Hitti. History of The Arabs). Dan secara istilah, Dewa Hubaal adalah dewa yang berbentuk roh (bandingkan dengan teologi Kristen) yang menjadi pantheon tertinggi Bangsa Moab sejak abad 15 SM seperti Yahweh menjadi pantheon tertinggi Bangsa Kanaan. Lantas dari mana orang-orang Quraisy Makkah mengenal Hubaal?
Adalah Amr bin Luhay (tahun 140 M) seorang pemimpin Bani Khuzaah yang pertama kali membawa Hubaal dari Ma'arib (Moab) untuk dibawa ke Makkah dan diletakan di Kaabah dan dijadikan sesembahan baru orang-orang Quraisy. Kenapa orang-orang Quraisy mau menyembah Hubaal? Ada 2 faktor: pertama, tradisi penyembahan terhadap Dewa Hubaal sudah sangat lama, yakni dimulai oleh Bangsa Moab hingga masa kekaisaran Romawi kuno Hadrian (yang memadamkan pemberontakan Israel yang dipimpin oleh Bar Kokhbah pada tahun 135 M). Dan Kaisar Hadrian inilah yang berinisiatif mendirikan Kuil Dewa Jupiter di atas reruntuhan Bait Suci Solomo yang di dalamnya juga terdapat Dewa Hubaal sebagai bentuk "toleransi" kepada masyarakat yang menyembah Dewa Hubaal. Tentu saja sebagai dewa yang "senior" dibanding Latta, Mannat dan Uzza (dewa lokal masyarakat Makkah), orang-orang Makkah merasa bangga menyembah dewa Bangsa Moab ini. Faktor yang kedua, dari segi artistik patung Dewa Hubaal jauh lebih indah dibandingkan dengan dewa-dewa lokal masyarakat Makkah. Jika Latta, Mannat dan Uzza hanya dipahat dari batu gunung biasa, maka patung Dewa Hubaal terbuat dari Batu Akik berwarna merah sehingga menimbulkan daya magnet tersendiri bagi masyarakat Makkah. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut, oleh masyarakat Makkah, Hubaal dijadikan pantheon tertinggi sebagai Dewa Kesuburan di atas Latta, Mannat dan Uzza. Gerhard Nehls seorang misionaris dalam bukunya "The African Chritian and Islam" mengatakan: "Where was Baal worshipped? In Moab! It was the "god of fertility". 'Amr bin Luhay brought Hubal from Moab to Arabia." Dengan demikian jelaslah bahwa Dewa Hubaal bukanlah produk asli Quraisy Makkah, tapi dewa impor yang berasal dari Moab perbatasan sebelah Utara Israel yang dibawa Amr bin Luhay ke Makkah. Dan semua patung (termasuk patung Dewa Hubaal) yang terdapat di dalam dan sekeliling Kaabah sudah dihancurkan oleh nabi Muhammad bersama para sahabat tanpa tersisa saat peristiwa Fatu Makkah.
Kalau begitu, dari mana masyarakat Makkah pra Islam mengenal ALLAH? Berbagai komentar muncul, tergantung ilmu dan wawasan komentator. Bagi yang berilmu dan berwawasan sempit, mereka mengatakan nama ALLAH baru ada setelah agama Islam lahir di Makkah. Argumentasi ini bisa dipatahkan dengan sebuah fakta yang telah umum diketahui bahwa, ALLAH telah menjadi nama sesembahan Kristen Arab sebelum Nabi Muhammad lahir. Yang setingkat di atas berwawasan sempit mengklaim bahwa sebelum Islam lahir di Makkah, ALLAH adalah nama Tuhan Kristen Arab. Dengan demikian Islam telah mengadopsi nama sesembahan Kristen Arab tersebut untuk menamai Tuhan-nya. Klaim inipun tidak begitu sulit untuk dipatahkan, karena dalam Taurat, tidak ada lafadz ALLAH. Sementara Kristen mengklaim, Tuhan dalam Taurat adalah juga Tuhan mereka. Kalau begitu dari mana Kristen Arab "mencomot" nama ALLAH ini? Sampai di sini Kristen pasti bingung dan terdiam kecuali mereka yang kuat urat malunya. Bagi yang kuat urat malunya akan menggunakan jurus "pokoknya": Pokoknya Allah muslim tidak sama dengan Allah Kristen, titik! Tanggapan: Memang tidak sama, karena Ilah Kristen adalah Ilah rekaan Yohannes yang konon telah menjadi manusia dan tinggal di Yerusalem dengan nama barunya, yakni Yesus. Sedangkan ALLAH muslim--sebagaimana Allah dalam Taurat--maha ghaib (tidak bisa dilihat).
Lalu, kenapa lafadz ALLAH tidak ada dalam Taurat? Lafadz ALLAH memang tidak ada, tapi dalam lafadz ALAHA dan lafadz ELOAH ada dalam Taurat berbahasa Aramaik dan Ibrani. Apa hubungannya? Begini., prinsip dasar teologi adalah Pencipta langit dan bumi sesungguhnya adalah pribadi yang tunggal, tidak mungkin lebih. Persoalannya, setiap suku bangsa memiliki dialek bahasa masing-masing sehingga bunyi yang timbul dari mulut mereka ketika menyebut nama Sang Pencipta tersebut relatif berbeda-beda meskipun maksudnya sama. Dalam konteks rumpun Bahasa Semitik (diafiliasikan ke keturunan Sem putra Nabi Nuh), nama Tuhan berakar dari huruf yang sama yakni Alif, Lam, Ha (Arab)/ Alaph, Lamad, Ha (Aramaik)/ Alef, Lamed, He (Ibrani). Ketika bangsa Arab menyebut nama Tuhan, dealek Arab-nya berbunyi ALLAH. Sedangkan bangsa Suryani dengan dealek Aram nya berbunyi ALAHA, dan bangsa Israel menyebut-Nya ELOAH (bentuk singular dari Elohim). Pertanyaan berikutnya, jika ALLAH, ALAHA dan ELOHA adalah pribadi yang sama, kenapa harus yang berlafadz ALLAH ditekankan ke umat manusia? Kenapa tidak ALAHA atau ELOAH saja? Jawabannya sederhana: karena bahasa Aramaik kuno sudah punah sejak abad 2 M, dan Ibrani (bukan Ibrani modern yang telah jauh melenceng dari akarnya) telah hilang sejak abad 5 SM saat bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babilonia. Artinya hanya tinggal bahasa Arab lah satu-satunya bahasa dari rumpun Semitik yang tersisa. Artinya kita tidak akan bisa menemukan lagi lafadz ALAHA maupun ELOAH dalam bahasa aslinya, kecuali ALLAH sebagaimana yang termaktub dalam al Qur'an.
Nah, kembali ke pertanyaan awal, apa agama Muhammad sebelum beliau menjadi nabi? Secara formal, tentu saja bukan agama Islam sebagaimana yang dimaksud Qs. Al-Maidah: 3 karena belum ada masa itu. Namun secara tradisi, keyakinan Muhammad adalah keyakinan yang dianut oleh Ibrahim dan Ismail, yakni "Hanifah Muslimin". Tentu akan ada sanggahan dari anda bahwa bukankah dalam Qs.2:132 nabi Ibrahim dan nabi Yakub berpesan kepada anak-anaknya agar jangan mati sebelum memeluk Islam? Sekali lagi jangan terjebak dengan terjemahan. Memang dalam terjemahan Depag RI ujung ayat tersebut adalah Islam ("... kecuali memeluk agama Islam"). Tapi jika membaca teks aslinya, kata yang tercantum adalah مُسْلِمُونَ (muslimun). Dengan demikian terjemahan yang sebenarnya adalah: "kecuali dalam keadaan muslim". Sebenarnya hal ini tidaklah menjadi masalah, sebab pengertian Islam dan Muslim tetaplah sama yakni berarti "penyerahan sepenuhnya kepada ALLAH". Artinya, menterjemahkan kata "muslimun" menjadi Islam di Qs.2:132 tersebut tidaklah salah. Hanya saja secara istilah, Islam dalam terjemahan di ayat tersebut bukan Islam sebagai sebuah nama agama sebagaimana yang tercantum dalam Qs. Al-Maidah: 3, melainkan Islam yang bermakna "menyerahkan diri sepenuhnya kepada ALLAH".
Selanjutnya apa kitab suci nabi Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi? Jawabannya adalah: tidak ada, sampai datangnya alQur'an. Kalau begitu, apa tuntunan Nabi Muhammad dalam beragama sebelum menjadi nabi? Jawabannya adalah ALLAH. Karena ALLAH menjanjikan bahwa keturunan Ibrahim dipelihara dan dilebihkan dari umat-umat lainnya (Qs. Ali-Imran: 33). Artinya Nabi Muhammad dituntun oleh ALLAH melalui Malaikat Jibril (Wallahu’alam).
Semoga bermanfaat.__
(Di sadur by Qodry Al Amir dan literatur: Phillip K.Hitti. History of The Arabs)
Komentar
Posting Komentar